Sejarah dari Hotelnya Sosialita Surabaya

Posted by Ayied Muhammad Riduan on 7:42 PM in
Hotel Majapahit, Surabaya, adalah saksi sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pertempuran besar pada 10 November 1945, berawal dari peristiwa perobekan bendera Belanda dua bulan sebelumnya di hotel yang ketika itu bernama Oranye tersebut.

Hotel di Jl Tunjungan, Surabaya, selesai dibangun pada 1910 oleh pengusaha keturunan Armenia yang sedang merintis jaringan hotel di Asia, Lucas Martin Starkies. Nama hotel baru itu adalah Oranje yang merujuk warna kebangsaan Belanda dan sebagai penghormatan terhadap keluarga kerajaan Belanda.


Mewah dan berada di tengah kota menjadikan Hotel Oranje sebagai tempat berkumpul sosialita Surabaya masa itu. Hotel dua lantai dengan 143 kamar itu juga menjadi tempat bermalam bagi para pengusaha Belanda yang sedang transit di Surabaya.

Pada masa pendudukan Jepang, nama hotel diganti menjadi Yamato. Sebagian bangunannya difungsikan sebagai markas komando dan mess bagi perwira tinggi militer Jepang.  Sejak peristiwa perobekan bendera Belanda pada 19 September 1945, hotel diubah menjadi Hotel Merdeka.

Tak bertahan lama, Starkies Bersaudara mengambil alih kembali pengelolaan hotel dan mengganti nama hotel menjadi L.M.S. Hotel. Nama tersebut adalah singkatan dari Lucas Martin Sarkies.

Pada 1969 kepemilikan hotel berpindah tangan kepada Mantrust Holding Co. Sejak itu nama kerajaan terbesar di Jawa Timur dan luas pengaruhnya hingga menjangkau beberapa negara di Asia Tenggara pun disandangnya, Majapahit. 

Kelompok usaha perhotelan Mandarin Oriental mengakuisisi kepemilikan pada 1993, sehingga namanya berganti menjadi Mandarin Oriental Hotel Majapahit. Pada tahun itu pula, pemerintah menetapkan hotel itu sebagai cagar budaya.

Selanjutnya, pada 2006, hotel ini diakuisisi PT Sekman Wisata dan berganti nama kembali menjadi Hotel Majapahit. Hingga kini bangunan hotel masih terawat keasliannya meskipun beberapa bangunan luar dan beberapa unsur interiornya telah direnovasi agar usianya.